Ticker

6/recent/ticker-posts

Membangun Narasi Politik Yang Sehat Untuk SBT Tercinta

 

Wakil Bupati Seram Bagian Timur (Idris Rumalutur, SE) dan Istri saat hadiri acara ramah tamah usai pelantikan Bupati dan Wakil Bupati beberapa waktu lalu.

Sebuah refleksi politik Oleh Wakil Bupati Seram Bagian Timur (Idris Rumalutur, SE)

MEMBANGUN NARASI POLITIK YANG SEHAT UNTUK SBT TERCINTA.

Assalamualikum Warahmatullahi Wabarakatuh... Bagaimana kabar bapak/ibu basudara warga SBt yang baik hati? Insya Allah, di bulan mulia nan penuh keberkahan ini, kiranya Allah limpahkan kebaikan berlipat ganda untuk setiap amalan yang kita lakukan dengan penuh ikhlas demi menggapai rindhoNya. Amin.

Melalui tulisan ringan akhir pekan di bulan Ramadan Karim ini, Saya selaku Wakil Bupati SBT ingin berbagi refleksi pikiran dengan warga samua. Tulisan ini hanya dimaksudkan untuk kita saling melihat ke dalam diri masing-masing, mengintrospeksi diri tentang peran politik kita menyoal akurasi berita dan informasi di tengah lingkungan sosial-politik SBT, baik kita sebagai konsumen informasi maupun sebagai produsen informasi itu sendiri.

PERTAMA, BIJAK SEBAGAI PRODUSEN INFORMASI.

Dalam dunia informasi, tentulah ada yang bertindak sebagai pihak yang memproduksi informasi (produsen/penyedia) untuk disebarkan pada khalayak luas. 

Nah, untuk membangun sebuah informasi yang membentuk narasi politik yang sehat demi kebaikan masyarakat dan lancarnya konsolidasi politik SBT yang berkemajuan nantinya, sungguh kita membutuhkan kompetensi yang tidak main-main; seperti  kemampuan menghimpun informasi, menganalisa, mengelola, hingga memproduksi dan menyebarkan informasi tersebut.

Biasanya, ini menjadi tugas jurnalis yang bekerja secara terstruktur pada institusi media. Namun, di luar kinerja para jurnalis, kini muncul juga peran warga sebagai jurnalis warga, dimana mereka bisa memproduksi berita sendiri. Perbedaannya, jurnalis warga tidak bekerja di bawah naungan institusi media, melainkan indepen. Selain itu, jurnalis warga juga bisa membangun opini mereka sendiri atas peristiwa yang mereka lihat atau alami sendiri.

Di sini, di luar kinerja institusi media dalam mengabarkan hal ikhwal apapun terkait SBT, Saya selaku Wabup ingin mengajak warga untuk turut andil menjadi jurnalis-jurnalis warga yang senantiasa mengabarkan kebenaran dan kebaikan melalui medsos masing-masing agar terciptanya iklim informasi yang sehat dan terciptanya narasi sosial-politik yang sehat pula. Bagaimana, setuju ka seng? 

Ok, lanjut! Saya ingin mengambil contoh bagaimana sebuah informasi bekerja, terutama mengenai kunjungan kerja saya di Desa Dawang terkait ambruknya jembatan darurat Wai Dawang. 

Sesaat setelah menerima informasi ambruknya jembatan darurat Wai Dawang, kami langsung bekerja mengatur kapan waktu kunjungan yang tepat ke lokasi. Ketika akhirnya berkunjung ke TKP, saya menghubungi Pak Bupati, meminta izin beliau untuk segera saya hubungi Dinas PU agar secepatnya mengeksekusi perbaikan jembatan tersebut. Seng butuh waktu lama, Dinas PU dengan sigap memperbaikinya hingga selesai dan masyarakat pun senang lantaran akses jalan itu akhirnya rampung.

Setelah itu, beredar ekspresi bahagia warga di media sosial atas terselesaikannya jembatan darurat tersebut, termasuk yang berterimakasih kepada saya secara pribadi. Apakah itu ekspresi yang salah? tentu saja TIDAK. Tapi, yang perlu diingat adalah ini kerja birokrasi, dimana ada andil besar Bupati sebagai decision maker (pengambil keputusan), saya selaku Wabup yang terjun langsung ke TKP, Dinas PU dan mitra lainnya yang gercep (gerakan cepat-red), juga masyarakat Dawang itu sendiri yang sangat kooperatif. 

Nah, informasi yang komprehensif seperti inilah yang mesti dikabarkan kepada publik, agar semua tahu bahwa pemerintah bekerja secara terstruktur, bukan asal karja. Kalau di luar ini semua masih ada informasi tidak jelas yang sengaja disebarkan untuk propaganda, mengadu masyarakat dengan pemerintah atau membenturkan internal pemerintah, maka tentu itulah kekeliruan informasi yang sesungguhnya.

Lantas kemana masyarakat mesti berpihak? Jawabannya jelas, berpihaklah pada informasi yang akurat, valid, dan verifikatif, supaya tidak mudah termakan INFO HOAX. 

Lantas, bagaimana cara mengetahui validitas sebuah informasi?

Jawabannya, masuklah kita pada poin KEDUA tulisan ini, yakni MENJADI KONSUMEN CERDAS. Sekali lagi, Menjadi Konsumen Cerdas. Caranya bagaiman Pak Wabup?

Bagini, pertama-tama; biasakanlah untuk Tabayyun. Sengaja saya ambil konsep ini langsung dari Quran, Surah Al-Hujurat, ayat 6:

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu." 

Mari katong samua renungkan. Mengapa Al-Quran dengan jelas dan tegas membahas tentang KEBENARAN BERITA/INFORMASI? Artinya, hal ini dianggap sangat penting untuk menjadi perhatian ummat. Bahkan Al-Quran langsung menjelaskan bahaya dari semua informasi yang keliru, hasut, dan penuh dusta yakni berpotensi merusak/mencelakakan seuatu kaum.

Andai saja Kebenaran Berita/Informasi ini hanya perkataan seorang ustadz atau bos di kantor, mungkin bisa katong cuek bahkan abaikan. Tapi, ini Al-Quran sendiri yang langsung menjelaskan. Artinya, pentingnya perkara ini, itu hampir sama pentingnya dengan larangan memakan babi dan barang haram lainnya. Kekuatan hukumnya sangat tinggi, sebab langsung dinyatakn dalam Al-Quran.

Tapi Pak Wabup, di era yang serba digital dan disruptif (pecah belah) ini, masyarakat akhirnya terjebak pada informasi yang parsial alias setengah-setengah dan tidak jelas benar atau salahnya. Bahkan semua seolah-olah benar. Ini bagaimana solusinya?

Tenang, jang panik. Hal ini sebenanrya sudah dibahas oleh seorang pakar teori kebudayaan, filsuf kontemporer, pakar politik, dan sosiolog asal Prancis: namanya, Jean Baudrillard. Antua ini, mencetuskan sebuah konsep yang disebut SIMULACRA: konsep tentang sulitnya katong membedakan mana realitas/keadaan/fakta asli dengan mana realitas/keadaan/fakta palsu atau fakta buatan yang muncul di media sebagai informasi. Pokoknya, kalau ada hal-hal yang tacampur takaruang, tarikat macam urat bagitu, itu namanya Simulacra. Kalau sudah tau, maka hati-hati dan jangan terjebak.

Makanya, kadang sebagai konsumen berita atau informasi, terutama informasi media daring alias online, katong jadi pusing sendiri karena seng tau mana yang benar dan salah akibat samua mengklaim benar dan saling menyalahkan. Sekali lagi, waspadalah, jangan terpedaya.

Nah, cara untuk menghindari Simulacra ini, coba katong pakai pendekatan dari Filsuf Islam ternama yakni Al-Farabi. Menurut Al-Farabi, untuk membedakan salah dan benar agar terhindar dari kemungkinan terjatuh pada kekeliruan, maka kita perlu menggunakan LOGIKA secara benar. 

Dari 5 pendekatan logika Al-Farabi, yang saya anggap paling mendekati masalah ini adalah Logika Jadali yaitu logika yang didasarkan pada hal-hal yang sudah terkenal dan diyakini kebenarannya oleh orang banyak. Contoh, dusta itu buruk dan keadilan itu baik. Jadi, kalau dirasa informasi yang katong konsumsi itu buruk, seng masuk akal, dan mengandung dusta alias hoax, maka tinggalkan dan jangan dishare lagi ke orang lain.

Dalam pendekatan agama, katong tentu sangat mengenal hadist Nabi yang berbunyi: “Man kana yu’minu billahi wal yaumil akhir, fal yaqul khairan au liyasmut!” (Barang siapa sudah beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau sebaiknya diam).

Jadi bapak/ibu basudara SBT samua, marilah katong bijak dalam membuat, menyebarkan, dan mengonsumsi suatu informasi. Serta, jadilah kita agen-agen penyebar narasi sosial-politik yang sehat demi Kabupaten SBT tercinta.

Terakhir, semoga tulisan kecil ini adalah catatan yang mengandung kebenaran dan manfaat untuk sidang pembaca.

Akhirul kalam, selamat menjalankan ibadah puasa dan menikmati akhir pekan, juga tetaplah produktif dalam ibadah dan kembali bekerja kalau Senin sudah datang.

Salam,

Idris Rumalutur

Wakil Bupati SBT